Di Antara Buku, Jus dan Jazz

Oleh: Ninis Agustini Damayani

Suasana di Zoe Comics Corner, Bandung | sumber: http://ngongospot.files.wordpress.com

Di suatu hari pukul dua siang, seorang anak laki-lai mengenakan seragam sekolah dasar duduk di lantai kayu berwarna hitam sambil bersandar pada sebuah rak tinggi yang dipenuhi komik. Tangannya asyik membuka halaman-demi halaman komik Avatar. Di halaman luar, di ruang semi terbuka, tampak tiga mahasiswa bercelana jins dan kaos oblong serius menatap laptop yang terbuka di atas meja di hadapan mereka sambil bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan dating menghantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Percakapan terus berlangsung sambil menikmati pesanan tersebut.

Sementara di pojok ruang tampak dua orang anak SMA duduk berdampingan di kursi panjang coklat. Keduanya asyik membaca novel sambil sesekali menyeruput jus jeruk yang mereka pesan dari kafe di tempat itu. Musik mengalun lembut tanpa mengganggu aktivitas pengguna perpustakaan berbasis komunitas berlabel Zoe Comics Corner di jalan Pager Gunung ,Bandung itu. Di sana tersedia ruang baca semi terbuka dengan fasilitas hotspot untuk mereka yang menyukai komik khususnya komik Jepang dan novel Indonesia. Selain kegiatan membaca yang dijadwalkan hari Senin hingga Jumat, anggota juga dapat mengikuti berbagai kegiatan lain seperti klub bola, klub musik dan klub jurnalis kampus pada hari Sabtu dan Minggu. Continue reading

Pola Komunikasi untuk Profesional Informasi

Oleh: Muhammad Bahrudin

Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI

Ilustrasi komunikasi. | sumber: http://2.bp.blogspot.com

Jelaskan  empat pola komunikasi yang umumnya diterapkan manusia dalam proses interaksi dengan sesama!

Komunikasi yang efektif sangat penting diterapkan dalam interaksi dengan sesama. Komunikasi efektif diperlukan agar maksud dan tujuan yang sedang dikomunikasikan dapat tersampaikan dengan baik dan tepat. Di bawah ini akan dipaparkan mengenai empat pola komunikasi yang umumnya diterapkan manusia dalam proses interaksi dengan sesama, yaitu:

1. Komunikasi pasif (passive communication)

Komunikasi pasif pada dasarnya ialah pola komunikasi yang bertujuan untuk menghindari konflik atau konfrontasi. Dalam pola komunikasi ini, kita tidak banyak bicara, kontak mata dengan lawan bicara sangat kurang bahkan menggunakan nada suara yang rendah. Orang yang memiliki pola komunikasi pasif memiliki keyakinan bahwa lebih aman untuk tidak bereaksi. Mereka bisa dikatakan orang yang kurang percaya diri sehingga merasa bahwa lebih baik tidak bersuara daripada memicu konflik dengan perkataan dan argumen-argumen yang dikeluarkan.

Contoh bentuk komunikasi pasif:

“Aku tidak tahu..”

“Terserah kamu saja, aku ikut.”

“Anda memiliki pengalaman yang lebih daripada saya. Andalah yang berhak memutuskan.”

“Saya tidak peduli. Itu tidak masalah buat saya.”

2. Komunikasi agresif (aggressive communication)

Orang yang memiliki pola komunikasi agresif, memiliki kecenderungan untuk terus berusaha mempertahankan pendapatnya. Kecenderungan ini bertujuan untuk mendapatkan apa yang dimaksud oleh sang agresor. Mereka tidak mempertimbangkan konflik yang mungkin terjadi karena merasa yakin bahwa pendapatnya yang paling benar. Dalam berkomunikasi dengan para agresor, kontak mata yang terjadi terasa tajam dan intimidatif. Komunikasi agresif selalu melibatkan manipulasi, berusaha untuk membuat orang melakukan atau menyetujui apa yang dikatakan.

Contoh bentuk komunikasi agresif:

“Saya tidak mengerti kenapa Anda tidak berpikir bahwa inilah satu-satunya cara yang paling tepat.”

“Kamu sangat bodoh jika berpikir cara ini akan berhasil.”

“Siapa peduli dengan apa yang kamu rasakan. Kita di sini bicara tentang bagaiman membuat ini bekerja dengan baik.”

3. Komunikasi pasif-agresif (passive-aggressive communication)

Bentuk kombinasi pola komunikasi, pasif-agresif, memungkinkan untuk menghindari konflik atau konfrontasi secara langsung tapi kemudian berusaha untuk memanipulasi keadaan agar sesuai dengan apa yang diinginkannya. Pola komunikasi ini memperlihatkan kepasifan ketika berhadapan langsung dengan lawan bicara, tapi ketika mereka pergi sifat agresifnya segera muncul dan seringnya menggunakan gaya sarkastik.

Contoh bentuk komunikasi pasif-agresif:

“Aku suka rambutmu. Mungkin banyak orang tidak pernah mengatakan bahwa itu cuma wig.”

“Tentu, Dokter. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda. –kemudian di belakangnya berkata—walopun sebenarnya terpaksa.”

4. Komunikasi asertif (assertive communication)

Pola komunikasi ini bisa dipahami dengan penjelasan tentang “win-win solution”. Jadi, intinya komunikasi yang dilakukan dengan saling menghormati hak dan pendapat masing-masing. Tujuan dari komunikasi jenis ialah untuk mengomunikasikan informasi dengan bertanggung jawab dan agar saling dimengerti satu sama lain. Komunikasi ini cukup efektif untuk mendapatkan solusi dari suatu permasalahan dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Dalam berkomunikasi, kontak mata terkontrol, percaya diri, mau mendengarkan, saling mengoreksi jika ada yang keliru, bersikap objektif dan tidak emosional.

Contoh bentuk komunikasi asertif:

“Jadi, pendapatmu tadi adalah……….”

“Saya sangat menghargai Anda, apalagi jika Anda mau mengutarakan pendapat Anda dengan lebih jelas lagi.”

“Aku pikir…… Aku rasa……. Aku percaya bahwa……”

Pola komunikasi yang mana yang disarankan untuk diterapkan oleh seorang profesional informasi?  Mengapa?

Seorang profesional informasi adalah orang yang akan terlibat banyak interaksi dengan orang lain. Sebagai orang yang menguasai sumber-sumber informasi yang mungkin sedang dibutuhkan oleh orang lain dan mereka akan menemui kita sebagai pemandu mereka menuju informasi yang dibutuhkan seefektif dan seefisien mungkin. Agar tujuan tersebut bisa tercapai, diperlukan strategi komunikasi yang efektif.

Sebagai profesional informasi, harus menjadi sosok yang mau mendengarkan dan berusaha memberikan solusi yang terbaik secara objektif. Kita tidak boleh memberikan kesan mengintimidasi atau menggurui para pengguna. Alangkah baiknya jika terjadi simbiosis mutualisme dalam komunikasi yang terjalin antara profesional informasi dan pengguna. Pola komunikasi yang paling tepat diterapkan adalah pola komunikasi asertif.

Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa menerapkan pola komunikasi yang lainnya. Dengan memahami keempat pola komunikasi tersebut, diharapkan kita sebagai profesional informasi dapat meningkatkan kemampuan kontrol diri (self control) dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kita harus bisa menempatkan diri kapan harus bersikap pasif, agresif, asertif maupun kombinasinya.

Eksistensi Perpustakaan dalam Dunia Harry Potter

Oleh: Muhammad Bahrudin

Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI

Perpustakaan Hogwarts | sumber: flickr.com

Kenal Harry Potter? Saya yakin sebagian besar temen-temen kenal dengan the boy who lived yang satu ini. Sayangnya saya tidak akan secara spesifik membahas mengenai kisah petualangan tiga sekawan (Harry, Ron dan Hermione) di kastil Hogwarts yang megah dan fenomenal itu. Kali ini, saya pengin ngobrol santai tentang perpustakaan. Loh kok? Apa hubungannya? Jangan panik dan kaget dulu dong, sob. Kalo kita perhatiin, petualangan Harry Potter dan teman-temannya di Hogwarts dalam rangka memecahkan misteri horcrux Voldemort (ups..gak apa kan nyebut namanya?) tidak lepas dari peran perpustakaan.

Dari jilid pertama hingga terakhir, banyak kita jumpai adegan-adegan ketika Harry atau teman-temannya memanfaatkan perpustakaan. Awal cerita ketika Harry pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Sihir Hogwarts, dia sudah banyak berhubungan dengan buku-buku untuk menggali informasi tentang dunia magic. Jelas saja, awal cerita kan Harry masih ‘hijau’ tentang dunia sihir karena dia yang memang keturunan penyihir tapi semenjak bayi harus dibesarkan oleh keluarga ‘muggle’ karena kedua orang tuanya meninggal dalam pertempuran melawan Pangeran Kegelapan.

Dalam jilid-jilid selanjutnya, dialog dan adegan yang menunjukkan fungsi dan peran perpustakaan bagi murid-murig Hogwarts semakin kentara. Khususnya di jilid keempat, Harry Potter and the Goblet of Fire, ketika di Hogwarts diadakan turnamen sihir terbesar sepanjang masa yaitu Triwizard. Tidak hanya Sekolah Sihir Hogwarts sebagai wakil London yang berpartisipasi tapi juga wizarding school dari negara lain yaitu Beauxbatons dan Durmstrang. TIga sekolah itu diwakili masing-masing (seharusnya) oleh satu orang muridnya untuk bertanding menyelesaikan tiga clue challenge besar yang diadakan sepanjang tahun ajaran. Hogwarts, pada waktu memiliki dua wakil Triwizard yaitu Cedric Diggory dari asrama Hufflepuff dan Harry Potter dari Gryffindor.

Adegan ketika Harry akan menghadapi tantangan pertama dalam Turnamen Triwizard yaitu mengalahkan naga, dia mencari informasi di perpustakaan karena bingung bagaimana cara menaklukan tantangan itu. Dia mencari info tentang mantra-mantra yang bisa digunakan untuk menjinakaan naga. Di sini digambarkan bahwa Harry memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi ketika tidak memiliki ide untuk memecahkan suatu masalah.

“Aku sudah melakukan riset di perpustakaan. perbudakan peri rumah sudah berlangsung selama berabad-abad. Aku heran taka da yang melakukan apapun sebelum ini.” Berikut adalah petikan kata-kata Hermione dalam Harry Potter and the Goblet of Fire ketika dia juga tengah resah dengan perbudakan peri rumah di dunia sihir. Dia mencari informasi tersebut (lagi-lagi) di perpustakaan. Perpustakaan menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi Hermione dalam mencari ide dan gagasan.

Tokoh yang juga cukup menjadi center of view di jilid keempat ini ialah Viktor Krum, wakil turnamen dari Durmstrang. Dia digambarkan juga tengah mencari informasi di perpustakaan Hogwarts untuk referensi jawaban challenge yang diberikan.

Kemudian ada adegan di mana Harry dan teman-temannya harus menggunakan seksi terlarang di perpustakaan untuk mencari informasi dalam menjawab tantangannya yang kedua Turnamen Triwizard. Ia meminta izin dari salah seorang guru agar dapat menggunakan seksi terlarang tersebut. Tiga sekawan ini sibuk mencari informasi tentang apapun yang bisa membantunya bertahan di dalam air selama satu jam untuk menyelamatkan sesuatu yang ada di Danau Hitam. Di sini digambarkan tentang pentingnya optimalisasi perpustakaan di setiap sisi koleksinya sebagai sumber referensi dan informasi. Walaupun akhirnya Harry tidak menemukan apa yang dia cari di seksi terlarang perpustakaan tetapi paling tidak mereka sudah puas telah berusaha.

Di lain waktu dalam cerita, digambarkan bahwa Harry, Ron dan Hermione duduk bersama di perpustakaan, sementara di luar matahari terbenam dan mereka terus membuka halaman demi halaman buku mantra dengan panik. Mereka tengah berdiskusi dengan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan.  Fungsi perpustakaan sebagai media diskusi dan bersosialisasi terlihat jelas di sini bahkan diterangkan jam buka layanannya bisa sampai matahari terbenam. Hal itu berarti optimalisasi waktu juga termasuk dalam fungsi perpustakaan.

Ada adegan ketika Harry merasa kecewa terhadap perpustakaan karena tidak berhasil membantunya menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tapi kemudian (tetap saja) dia butuh perpustakaan untuk menyelesaikan masalahnya. Bahkan Harry harus menyusup ke perpustakaan dengan jubbah gaibnya untuk membaca buku sepanjang malam. Keadaan perpustakaan yang gelap tidak menghalanginya untuk just searching another information yang dia butuhkan. Dia memanfaatkan mantra ‘lumos’ sebagai penerangan dari ujung tongkat sihirnya. Demikian seterusnya, dari halaman 587 sampai 689, banyak adegan yang menunjukkan Harry menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Hermione, tokoh yang digambarkan sebagai sosok yang smart dan penuh perhitungan, sangat dekat dengan buku-buku dan perpustakaan. “Beri aku dua menit di perpustakaan untuk memastikannya!” Demikian kata Hermione, dia memanfaatkan perpustakaan sebagai media konfirmasi atas ide atau gagasan yang ingin dia sampaikan. Seperti karakternya, dia sosok yang penuh perhitungan.

Harry dan teman-temannya memanfaatkan perpustakaan untuk berdiskusi | sumber: 25.media.tumblr.com

Dunia fiksi adalah dunia di mana imajinasi tercipta sebagai bentk reaksi dari sang imajinator akan dunianya. Karya-karya fiksi menawarkan suatu bentuk kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarangnya dipadukannya dengan nilai estetik yang dominan. Harry Potter merupakan karya fiksi yang fenomenal dari seorang J.K. Rowling. Saya mengambil sisi peran dan fungsi perpustakaan dalam karya ini karena memang di dalamnya begitu banyak kontemplasi tentang dunia tersebut.

Buku-buku Harry Potter banyak menginterpretasikan fungsi dan peran perpustakaan secara eksplisit maupun implisit. Sebut saja yang saya contohkan di atas yang menunjukkan fungsi perpustakaan Hogwarts sebagai media pendidikan. Perpustakaan Hogwarts digunakan oleh siswa-siswanya sebagai sumber informasi dalam mengerjaka tugas-tugas sekolah. Di sana tersedia buku-buku yang siswa perlukan untuk menyokong dunia pendidikannya selama tujuh tahun  di Hogwarts.

Selain itu fungsi dokumentasi juga ada dalam cerita Harry Potter. Melalui perpustakaan, Harry dan teman-temannya dapat mengetahui rekaman sejarah, data, dan informasi terkait dengan apapun yang ingin mereka cari, seperti sejarah kastil Hogwarts, sejarah peri rumah, silsilah keluarga-keluarga penyihir dan sebagainya. Peran koran dalam juga sudah ada dengan munculnya Prophet sebagai terbitan yang menjadi sumber informasi harian, mingguan atau bulanan bagi masyarakat penyihir.

Kemudian yang tidak kalah penting ialah fungsi rekreasi dari perpustakaan juga digambarkan dalam kisah Harry Potter ini. Perpustakaan Hogwarts dimanfaatkan pula oleh siswa-siswinya untuk sekedar berbincang, duduk-duduk atau membaca ringan di waktu luang mereka.

Demikian, meskipun sebuah karya fiksi yang mengandung unsur idealisme pengarangnya, karya Harry Potter ini banyak memberikan informasi dan gambaran kepada pembaca tentang fungsi dan peran perpustakaan secara umum dan spesifik. Ada baiknya juga bahwa pembaca dapat ikut terhanyut dalam imajinasi Tante J.K. Rowling tentang petualangan Harry dan teman-temannya sekaligus memberikan suntikan motivasi untuk memaksimalkan daya guna perpustakaan di dunia nyata.