Dinamika Perpustakaan Modern: Mendobrak Pakem Perpustakaan Tradisional

Oleh: Muhammad Bahrudin

Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Sumber: bedroomkitchen.com

Sumber: bedroomkitchen.com

Pernahkah Anda mendengar lelucon tua tentang perpustakaan berikut ini?

Seorang bocah masuk ke perpustakaan dan meminta burger dan kentang goreng. “Anak muda!” Teguran pustakawan membuatnya terkejut. “Anda berada di perpustakaan.” Jadi kemudian, anak itu mengulangi perintahnya, hanya saja kali ini dia sambil berbisik.

Begitu banyak yang telah berubah dalam perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir. Adegan semacam ini mungkin tidak begitu terlalu mengada-ada. Banyak perpustakaan telah menjadi pusat komunitas yang ramai di mana berbicara keras-keras dan bahkan makan benar-benar bisa diterima.

Sebagai contoh Perpustakaan Umum Boston, yang didirikan pada tahun 1848 dan merupakan perpustakaan umum tertua di negara tersebut, bergerak cepat ke arah itu. Dengan renovasi besar yang telah berlangsung, lembaga ini melanggar dari pakem perpustakaan pada umumnya untuk menunjukkan perubahan yaitu sisi yang lebih ramah sisi ke pengunjung. Rancangan interior meliputi ruang ritel baru, bagian souped-up untuk remaja, dan bangku bar tinggi di mana pengunjung dapat membawa laptop mereka dan melihat keluar ke bagian atas Boylston Street. Continue reading

Di Antara Buku, Jus dan Jazz

Oleh: Ninis Agustini Damayani

Suasana di Zoe Comics Corner, Bandung | sumber: http://ngongospot.files.wordpress.com

Di suatu hari pukul dua siang, seorang anak laki-lai mengenakan seragam sekolah dasar duduk di lantai kayu berwarna hitam sambil bersandar pada sebuah rak tinggi yang dipenuhi komik. Tangannya asyik membuka halaman-demi halaman komik Avatar. Di halaman luar, di ruang semi terbuka, tampak tiga mahasiswa bercelana jins dan kaos oblong serius menatap laptop yang terbuka di atas meja di hadapan mereka sambil bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan dating menghantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Percakapan terus berlangsung sambil menikmati pesanan tersebut.

Sementara di pojok ruang tampak dua orang anak SMA duduk berdampingan di kursi panjang coklat. Keduanya asyik membaca novel sambil sesekali menyeruput jus jeruk yang mereka pesan dari kafe di tempat itu. Musik mengalun lembut tanpa mengganggu aktivitas pengguna perpustakaan berbasis komunitas berlabel Zoe Comics Corner di jalan Pager Gunung ,Bandung itu. Di sana tersedia ruang baca semi terbuka dengan fasilitas hotspot untuk mereka yang menyukai komik khususnya komik Jepang dan novel Indonesia. Selain kegiatan membaca yang dijadwalkan hari Senin hingga Jumat, anggota juga dapat mengikuti berbagai kegiatan lain seperti klub bola, klub musik dan klub jurnalis kampus pada hari Sabtu dan Minggu. Continue reading

Pola Komunikasi untuk Profesional Informasi

Oleh: Muhammad Bahrudin

Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI

Ilustrasi komunikasi. | sumber: http://2.bp.blogspot.com

Jelaskan  empat pola komunikasi yang umumnya diterapkan manusia dalam proses interaksi dengan sesama!

Komunikasi yang efektif sangat penting diterapkan dalam interaksi dengan sesama. Komunikasi efektif diperlukan agar maksud dan tujuan yang sedang dikomunikasikan dapat tersampaikan dengan baik dan tepat. Di bawah ini akan dipaparkan mengenai empat pola komunikasi yang umumnya diterapkan manusia dalam proses interaksi dengan sesama, yaitu:

1. Komunikasi pasif (passive communication)

Komunikasi pasif pada dasarnya ialah pola komunikasi yang bertujuan untuk menghindari konflik atau konfrontasi. Dalam pola komunikasi ini, kita tidak banyak bicara, kontak mata dengan lawan bicara sangat kurang bahkan menggunakan nada suara yang rendah. Orang yang memiliki pola komunikasi pasif memiliki keyakinan bahwa lebih aman untuk tidak bereaksi. Mereka bisa dikatakan orang yang kurang percaya diri sehingga merasa bahwa lebih baik tidak bersuara daripada memicu konflik dengan perkataan dan argumen-argumen yang dikeluarkan.

Contoh bentuk komunikasi pasif:

“Aku tidak tahu..”

“Terserah kamu saja, aku ikut.”

“Anda memiliki pengalaman yang lebih daripada saya. Andalah yang berhak memutuskan.”

“Saya tidak peduli. Itu tidak masalah buat saya.”

2. Komunikasi agresif (aggressive communication)

Orang yang memiliki pola komunikasi agresif, memiliki kecenderungan untuk terus berusaha mempertahankan pendapatnya. Kecenderungan ini bertujuan untuk mendapatkan apa yang dimaksud oleh sang agresor. Mereka tidak mempertimbangkan konflik yang mungkin terjadi karena merasa yakin bahwa pendapatnya yang paling benar. Dalam berkomunikasi dengan para agresor, kontak mata yang terjadi terasa tajam dan intimidatif. Komunikasi agresif selalu melibatkan manipulasi, berusaha untuk membuat orang melakukan atau menyetujui apa yang dikatakan.

Contoh bentuk komunikasi agresif:

“Saya tidak mengerti kenapa Anda tidak berpikir bahwa inilah satu-satunya cara yang paling tepat.”

“Kamu sangat bodoh jika berpikir cara ini akan berhasil.”

“Siapa peduli dengan apa yang kamu rasakan. Kita di sini bicara tentang bagaiman membuat ini bekerja dengan baik.”

3. Komunikasi pasif-agresif (passive-aggressive communication)

Bentuk kombinasi pola komunikasi, pasif-agresif, memungkinkan untuk menghindari konflik atau konfrontasi secara langsung tapi kemudian berusaha untuk memanipulasi keadaan agar sesuai dengan apa yang diinginkannya. Pola komunikasi ini memperlihatkan kepasifan ketika berhadapan langsung dengan lawan bicara, tapi ketika mereka pergi sifat agresifnya segera muncul dan seringnya menggunakan gaya sarkastik.

Contoh bentuk komunikasi pasif-agresif:

“Aku suka rambutmu. Mungkin banyak orang tidak pernah mengatakan bahwa itu cuma wig.”

“Tentu, Dokter. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda. –kemudian di belakangnya berkata—walopun sebenarnya terpaksa.”

4. Komunikasi asertif (assertive communication)

Pola komunikasi ini bisa dipahami dengan penjelasan tentang “win-win solution”. Jadi, intinya komunikasi yang dilakukan dengan saling menghormati hak dan pendapat masing-masing. Tujuan dari komunikasi jenis ialah untuk mengomunikasikan informasi dengan bertanggung jawab dan agar saling dimengerti satu sama lain. Komunikasi ini cukup efektif untuk mendapatkan solusi dari suatu permasalahan dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Dalam berkomunikasi, kontak mata terkontrol, percaya diri, mau mendengarkan, saling mengoreksi jika ada yang keliru, bersikap objektif dan tidak emosional.

Contoh bentuk komunikasi asertif:

“Jadi, pendapatmu tadi adalah……….”

“Saya sangat menghargai Anda, apalagi jika Anda mau mengutarakan pendapat Anda dengan lebih jelas lagi.”

“Aku pikir…… Aku rasa……. Aku percaya bahwa……”

Pola komunikasi yang mana yang disarankan untuk diterapkan oleh seorang profesional informasi?  Mengapa?

Seorang profesional informasi adalah orang yang akan terlibat banyak interaksi dengan orang lain. Sebagai orang yang menguasai sumber-sumber informasi yang mungkin sedang dibutuhkan oleh orang lain dan mereka akan menemui kita sebagai pemandu mereka menuju informasi yang dibutuhkan seefektif dan seefisien mungkin. Agar tujuan tersebut bisa tercapai, diperlukan strategi komunikasi yang efektif.

Sebagai profesional informasi, harus menjadi sosok yang mau mendengarkan dan berusaha memberikan solusi yang terbaik secara objektif. Kita tidak boleh memberikan kesan mengintimidasi atau menggurui para pengguna. Alangkah baiknya jika terjadi simbiosis mutualisme dalam komunikasi yang terjalin antara profesional informasi dan pengguna. Pola komunikasi yang paling tepat diterapkan adalah pola komunikasi asertif.

Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa menerapkan pola komunikasi yang lainnya. Dengan memahami keempat pola komunikasi tersebut, diharapkan kita sebagai profesional informasi dapat meningkatkan kemampuan kontrol diri (self control) dalam berkomunikasi dengan orang lain. Kita harus bisa menempatkan diri kapan harus bersikap pasif, agresif, asertif maupun kombinasinya.