Analisis Wacana Mengenai Peran Pustakawan dalam “Strategi Penelusuran Informasi Melalui Internet”

Oleh:

Muhammad Bahrudin dan Dwi Antoningtyas, Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI

Banjir informasi | personal.psu.edu

Banjir informasi | personal.psu.edu

A.  Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, menuntut pustakawan dan perpustakaan untuk berjuang dan bekerja lebih keras lagi dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta keahlian dalam bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi, serta teknologi informasi. Maka mau tidak mau pustakawan harus berani dan bersedia melakukan terobosan dan perubahan agar dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi pada perpustakaan yang dikelolanya. Penguasaan semua materi yang saya sebut ini akan menjadikan pustakawan semakin profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Status keprofesionalan pustakawan memang bertolak dari diri pribadi masing-masing. Pertanyaan kita sekarang adalah : “Apakah benar pustakawan kita mau menjadi profesional serta adakah kemauan dan upaya apa saja yang sudah dilakukan?” Pemerintah kita telah mengakui pustakawan adalah pejabat fungsional khusus. Dengan pengakuan ini berarti telah dibuka lebar pintu keprofesionalan pustakawan. Oleh sebab itu upaya membangun citra diri pustakawan (image branding) saat ini menjadi keharusan. Namun pengakuan status keprofesionalan pustakawan pada akhirnya sangat tergantung pada penilaian masyarakat luas.

B. Isu tentang Profesionalitas Pustakawan

Salah satu peran pustawawan yang berkaitan dengan status keprofesionalitasannya adalah tentang penguasaan pada strategi penelusuran informasi, khususnya yang dibahas di sini adalah adalah informasi di internet. Masyarakat awam pengguna jasa layanan informasi (user) saat ini dimanjakan dengan melimpah-ruahnya informasi yang tersedia pada pangkalan data terpasang (online database). Kemudian masalah yang sering dialami oleh user ini adalah keefektifan dan efisiensi informasi yang didapatkan yang kadang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Hal itu menimbulkan kebingungan dan ketidakpuasan pengguna jasa layanan informasi, khususnya internet. Continue reading

Perpustakaan Digital Tak akan Gantikan Perpustakaan Konvensional

Oleh: Mike O’Sullivan

http://technology.lintas.me, 12 Mei 2012

Pengguna perpustakaan dan eBook koleksinya, sumber: voa

Pustakawan di salah satu kampus di Los Angeles mengatakan meskipun fasilitas mereka berubah dimana buku koleksinya akan dibuat dalam bentuk digital, buku cetak masih akan bertahan untuk waktu yang lama.

Sebuah infrastruktur besar mengoperasikan perpustakaan di Universitas California, Northridge. Di belakang layar, 13.000 tempat penyimpanan buku ditumpuk setinggi 12 meter dengan sistem otomatis yang bisa mengambil buku dalam hitungan detik.

Lebih dari satu juta buku dan seperempat juta jurnal berkala disimpan di kampus di pinggiran kota Los Angeles itu. Katalog-katalog itu digital dan para mahasiswa menggunakannya dalam studi mereka. Perpustakaan itu juga menyimpan ribuan buku dan dokumen langka.

Mark Stover, dekan perpustakaan itu, mengatakan benda berharga seperti sebuah catatan perjalanan pada abad ke-18 disimpan di perpustakaan itu, sementara jurnal-jurnal akademik modern kebanyakan dalam bentuk digital.

“Kemungkinan 90 persen dari jurnal yang kita berlangganan sekarang datang dalam format elektronik. Dengan buku-buku dan monograf di sisi lain, perpustakaan kami sedikit berbeda,” demikian kata Mark Stover.

Sebagian besar buku baru di perpustakaan itu adalah dalam bentuk kertas, dan  mahasiswi biologi Lisa Ochoa lebih menyukainya, seperti diungkapkannya,
“Saya juga suka komputer, tapi saya lebih suka buku dan kertas.”

Sebuah upaya besar sedang dilakukan untuk mendigitalkan buku-buku itu dan menyebarluaskannya. Koleksi perpustakaan itu juga mencakup bahan arsip, seperti surat tulisan tangan dan koran bekas yang sudah lama.

Pustakawan digital Steve Kutay membuat kode file dengan deskriptif “metadata” memastikan bahwa mereka akan tetap dapat diakses.

“Buku-buku itu ada cadangannya dan bisa disimpan di luar perpustakaan. Mereka bisa terlindungi dengan baik, tapi tidak berarti bagi kita jika 10, 20 tahun lagi kita tidak tahu apa yang terkandung di dalam file tersebut,” kata Steve Kutay.

Kepala layanan teknis perpustakaan, Helen Heinrich, mengawasi katalog buku dan majalah baru, dan memindahkan buku yang telah diubah secara elektronik. Dia mengatakan banyak universitas bekerja sama untuk memastikan bahwa buku cetak tetap disimpan untuk sewaktu-waktu dibutuhkan. Dia menjelaskan, “Seperti kita tahu, kita semua menjadi begitu tergantung pada internet. Tapi bagaimana kalau ada serangan cyber dan semuanya hilang dalam sekejap. Jadi kita akan tetap memiliki salinannya.”

Mark Stover mengatakan bentuk digital memberikan lebih banyak ruang di perpustakaan dan kesempatan untuk mendesain ulang tata letak fisik mereka, tetapi itu bukan konversi lengkap. Untuk buku, prosesnya bertahap. Dia mengatakan banyak file digital tidak tersedia karena penulis atau ahli waris penulis memegang hak cipta dan tidak mengijinkan karya mereka disebarluaskan secara elektronik.

World Digital Library: Perpustakaan Digital Berbasis Keberlanjutan

Oleh: Muhammad Bahrudin

Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI 2009

Era modern sekarang ini, teknologi sudah semakin canggih dan berkembang dengan pesat seakan tanpa batas. Dunia seakan tak lagi memilik boundaries yang nyata dari segala aspek kehidupan. Kebutuhan informasi manusia modern juga semakin meningkat dan didukung pula oleh akses yang mudah seperti sekarang ini menggunakan fasilitas internet. Namun adanya banjir informasi sekarang ini identik dengan adanya trash informations atau informasi sampah yang sebenarnya tidak bermanfaat dan tidak berguna tapi tersedia dan menggoda pengguna untuk mengaksesnya, contohnya beredarnya situs-situs pornografi dan sebagainya. Oleh karena munculnya perpustakaan dalam bentuk digital kini sangat bermanfaat dalam mengurangi adanya penggunaan situs-situs sampah tersebut. Selain itu juga memudahkan akses bagi pengguna di seluruh dunia yang ingin menggunakan bahan atau materi pustaka yang ada di perpustakaan digital tersebut tanpa harus datang ke tempatrnya.

Perpustakaan Digital Dunia atau World Digital Library (WDL) adalah perpustakaan digital antarnegara yang dikelola oleh UNESCO dan Library of Congress (Perpustakaan Kongres) milik Amerika Serikat. Perpustakaan ini diresmikan pada tanggal 21 April 2009 dan dimaksudkan sebagai sumber rujukan dokumen primer berbagai dokumen penting dunia yang bisa diakses dengan bebas biaya.

Misi pembentukan perpustakaan ini adalah untuk mengembangkan pemahaman antarbangsa dan -budaya, memperluas kandungan variasi dan isi pada internet, menyediakan bahan dasar pengajaran bagi pengajar, sarjana, dan peminat umum, serta untuk memperkuat kemampuan lembaga-lembaga mitra untuk mempersempit kesenjangan digital intra- maupun antarnegara.Sebagai tujuan adalah untuk mengembangkan dokumen non-bahasa Inggris dan non-barat di internet, dan membantu penyediaan bahan penelitian akademik. Dalam wawancara dengan majalah Nature, Direktur WDL, John van Oudenaren, menyatakan bahwa sebagian besar generasi muda di dunia banyak memperoleh informasi melalui media elektronik. WDL berusaha menjadi salah satu sumber informasi ini. Selain itu, WDL juga menjadi upaya untuk lebih mendorong negara berkembang memacu digitalisasi arsip dan dokumen sejarah berharga yang mereka miliki.

Perpustakaan ini menyediakan berbagai material sumber primer dari berbagai kebudayaan dunia secara bebas biaya dan dalam format multibahasa, seperti manuskrip, peta, buku langka, partitur, musik, rekaman, film, foto, arsitektur dan berbagai bahan budaya lainnya.

Berkaitan dengan preservasi koleksi digital yang dimilki oleh World Digital Library, koleksi yang dimiliki bukanlah koleksi terjemahan, dengan kata lain semuanya masih menggunakan bahasa-bahasa asli sesuai asal bahan tersebut. Tim WDL mempertimbangkan berbagai pendekatan untuk terjemahan, termasuk terjemahan yang dibantu komputer atau mesin, terjemahan oleh jaringan relawan atau beberapa kombinasi dari semuanya. Berkomitmen untuk menyediakan terjemahan berkualitas tinggi dan akan bekerja untuk meningkatkan proses penerjemahan. Untuk mempersiapkan peluncuran situs awal, tim WDL menggunakan alat terpusat dengan memori terjemahan. Dengan adanya kebijakan tersebut memungkinkan untuk keberlanjutan bahan koleksi tersebut bisa tetap lestari baik dari segi akses maupun ilmu atau informasi yang terkandung di dalamnya. Kemungkinan terjadinya error atau missing-text karena pengaruh bahasa di kemudian hari bisa lebih dapat dihindari.

Kemudian yang berkaitan dengan preservasi konservasi juga ialah masalah pendanaan. Sumber dana WDL adalah dari institusi yang cukup berpengaruh di dunia seperti Google, Inc., The Qatar Foundation, The Carnegie Corporation of New York, The King Abdullah University of Science and Technology, Microsoft, Inc., The Lawrence and Mary Anne Tucker Foundation, The Bridges of Understanding Foundation, dan The James Madison Council of the Library of Congress. Institusi-istitusi tersebut rutin setiap tahun mengadakan pertemuan dan menyumbangkan dana dalam rangka keberlanjutan website dan digital libraries tersebut. Menjaga kekayaan intelektual yang terkandung di dalamnya dan juga mengembangkan kebijakan-kebijakan berkaitan dengan server hosting dan isu-isu terkait keberlanjutan bahan koleksi.

Kemudahan akses untuk masa kini dan masa mendatang menjadi kunci yang harus tetap dipertahankan oleh WDL agar tetap bisa bertahan sebagai salah satu sumber informasi digital terbesar di dunia yang nantinya akan bisa dimanfaatkan oleh pengguna di semua zaman tanpa adanya batas dan hambatan dari segi aksesibilitas dan requirement baik dari software maupun hardware yang digunakan. Perkembangan brainware para pengguna jasa informasi semakin berkembang dan juga mereka selalu menuntut hal yang baru. Oleh karena itu WDL pun memiliki siasat dalam menanggulangi kebutuhan tersebut. Beberapa langkah yang dilakukannya antara lain; selalu aktif mencari mitra institusi dengan kontribusi dari konten yang ada, dan bekerja untuk meningkatkan katalogisasi, terjemahan, dan fungsi lainnya.

Sebagai sebuah bentuk perpustakaan digital masa depan, World Digital Libraries bisa dijadikan contoh bagi perpustakaan digital lainnya. WDL sangat memperhatikan kebutuhan pengguna dan keberlanjutan bahan koleksi digital yang mereka miliki.

Sumber: