Oleh: Yulia Permata Sari

http://www.mediaindonesia.com, 10 Maret 2011

Food library, Mal Ciputra, sumber: http://id.openrice.com

Jika menyebut kata perpustakaan, yang terlintas di kepala Anda barangkali sebuah ruangan dengan deretan rak berisi buku-buku tersusun rapi. Tapi, lain halnya dengan Food Library. Di tempat ini, Anda bisa menjumpai puluhan tenant yang menjajakan makanan penggoda selera.

Gerai makanan (food court) yang terdapat di Mal Ciputra Jakarta itu, mengusung konsep unik dan berbeda dibandingkan gerai makanan lain. Desain interior di Food Library dirancang sedemikian rupa sehingga menyerupai perpustakaan yang nyaman.

”Food Library ini konsepnya keluar dari rule. Di mana-mana, di perpustakaan orang diam dan membaca. Nah, konsep Food Librabry ini tempatnya cozy dan nyaman, dengan live music sebagai hiburan,” jelas Public Relation Mal Ciputra Jakarta Rida Kusrida, Kamis (10/3).

Sebelumnya, gerai makanan yang terdapat di mal tersebut dikenal dengan nama Pasar Senggol. Namun, sejak Juni 2010 konsepnya berubah dan berganti nama menjadi Food Library. Pergantian nama dari gerai makanan yang terdapat di lantai enam itu, juga diikuti dengan perubahan suasana dan interior di dalamnya untuk menarik pengunjung.

Smoking area, Food library

Total terdapat 35 tenant yang menjajakan berbagai menu tradisional mau pun internasional, mulai dari Bakmi Bangka, Batagor Cuplis, Nasi Gandul Khas Pati, Bakwan Malang Arema, Frozen Fruit Ice, Tahu Kok Bangka, Pempek Palembang, Dadap Kuring Khas Sunda, Afung Baso Sapi Asli, Sop Betawi Raja Sop Betawi, Soto Kudus Blok M, Ayam Penyet Lombok Merah, Sushi Resto, Teppanyaki Smart Chef, dan Cariss Ayam Presto. Harganya juga bervariasi, mulai dari Rp3.000,00-Rp20.000,00 untuk minuman dan Rp20.000,00-Rp30.000,00 untuk makanan.

Interior buku pajangan

”Di sini kita menyediakan masakan tradisional dan internasional. Indonesian food sekitar 70 persen, Japanese food 20 persen, dan Chinese food 10 persen,” ujar Food Court Manager Inge Sidharta.

Menurut Inge, konsep perpustakaan sengaja dipilih untuk menciptakan atmosfer berbeda dan nyaman. Sayangnya, para pengunjung tidak dapat benar-benar membaca buku di sana. Sebab, semua buku di Food Library hanya pajangan dan bukan buku sungguhan.

”Kami tidak menyediakan bukunya, tapi influence suasana aja. Pas baru selesai, kita trial pakai real book. Tapi, maintenance-nya susah. Buku kena makanan, hilang, rusak. Kita belum siap hadapi itu,” imbuhnya.

 

Advertisements