Oleh: Perpustakaan Kementerian Keuangan

http://edukasi.kompasiana.com, 20 Maret 2012

Perpustakaan Kementerian Keuangan

“Kesan pertama itu bernilai setengah dolar.” Begitulah ungkapan paling terkenal dari seorang maestro komunikasi yang tidak asing lagi Dale Carnegie. Demikian jugalah yang harus kita renungkan sebagai pengelola perpustakaan, calon pengelola atau pecinta buku. Memang benar sampul buku tidak mewakili isinya, tapi juga perlu dipahami di sisi lain dari sampul buku yang bisa menjadi refleksi isi sekaligus memperkaya makna buku sebagai simbol kebudayaan. Kenyataan menunjukkan seringkali sampul buku yang berwarna terang meningkatkan jumlah penjualan buku-buku populer. Tidak heran jika buku-buku populer memiliki pasarnya sendiri, terlepas dari isi bukunya. Meskipun sampul buku tidak mewakili isinya, tidak berarti buku yang sampulnya bagus isinya tidak berkualitas kan?

Apakah penampilan perpustakaan sudah dilihat orang sebagai tempat yang nyaman? Setiap kali kita bangun tidur dan merapikan diri kita di depan cermin yang kita inginkan adalah agar setiap mata yang melihat kita merasa nyaman, senang. Demikian juga seharusnya, ruang kerja kita harus selalu tampil maksimal, rumah tempat tinggal kita juga harus selalu rapi dan bersih, nyaman dan “hangat”. Bagi pekerja informasi perpustakaan adalah rumah, oleh sebab itu harus diperlakukan juga seperti rumah menjadi tempat yang hangat dan terbuka bagi siapa saja. Harus bersih dari debu, udaranya harus segar dan bebas dari tumpukan kertas yang menggunung.

Konsep desain interior suatu ruangan sering kali tidak menjadi perhatian insan pendidikan. Minimum Essential Standard selalu menjadi titik berat pembangunan sarana pendidikan, termasuk di dalamnya perpustakaan. Itu tidak salah, namun saya yakin konsep Maximum Effect Standard dapat menjadi acuan yang lebih baik dan lebih layak diperjuangkan. Terlebih lagi apabila Minimum Essential Standard dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk menurunkan standar proyek pembangunan, itu lebih memilukan. Kalau tidak ada yang memperjuangkan perpustakaan, maka para pekerja informasi di dalamnya lah yang harus berjuang memperbaiki perpustakaan.

Pak RT tidak akan mau membantu kita ber makeup dan berbusana, oleh sebab itulah kita sendiri yang harus memperbaiki penampilan perpustakaan kita. Hakikat penampilan tidak terbatas kepada wujud fisik dan visual saja, tetapi juga harus audio-visual melalui layanan yang simpatik, fokus, tutur kata yang lembut dan solutif, serta suasana yang semarak di perpustakaan kita. Ya, perpustakaan harus berani tampil beda, harus berani tampil unik, tidak sama dengan yang lain. Benar-benar beda dengan ruang kerja, harus dapat dibedakan mana ruang perpustakaan dan mana toko kelontong apalagi gudang barang bekas. Semangat perbaikan akan selalu relevan sepanjang jaman.

Advertisements