Masyarakat informasi, Teknologi informasi

Saya Googling, Maka Saya Ada?

Oleh: http://pustakawanjugamanusia.webly.com

 Desember 2011
sumber: beinglatino.files.wordpress.com

Selama beberapa dekade belangan ini banyak sekalli perubahan dalam kehidupan orang Indonesia dan tentu saja saya. Dimotori dengan revolusi industri telekomunikasi dari membanjirnya gagdet digital sampai mudahnya internet, walau belum bisa dibilang murah. Saat ini sudah jamak rasanya anak-anak yang pipisnya belum lempeng saja pegangannya sudah BB atau Smartphone keluaran terbaru. Diikuti dengan bagaimana familiarnya anak-anak kita dengan term-term internet serta teknologi informasi dalam keseharian mereka. Tidak jarang, dari yang saya dengar, saat ini google pun menjadi semacam andalan murid-murid sekolahan dalam mengerjakan PR, guru-gurupun ikut memanfaatkan jejaring sosial khususan Facebook dalam berinteraksi dengan anak didik mereka.

Pun begitu masih saya tidak ketahui apakah guru BP yang dulu menjadi momok bagi saya ketika sekolah, saat ini dapat memanfaatkan keberadaan jejaring sosial tersebut dalam memantau anak didik yang mungkin bermasalah. Tak urung seharusnya memang begitu, karena anak-anak sekarang berbeda dengan saya, adalah generasi digital native*.

Menjadi anak yang lahir pada akhir tujuhpuluhan memaksa saya menjadi bagian dari sebuah istilah yang lumayan ngetren, yakni; digital immigrant**. Perkenalan saya dengan teknologi dijital khususnya internet tidak seperti anak-anak sekarang yang mungkin sejak lahir sudah direkam proses kelahirannya dengan kamera handphone, cukup uzur juga. Pertama kali kenal internet adalah ketika duduk di bangku kuliah. Sedangkan smartphone, apa lagi, sampai saat ini saya masih merasa belum perlu untuk memilikinya, walau jujur saja tak urung rasa untuk memiliki itu memang ada, hanya saja rasanya masih banyak prioritas lain yang dapat dipenuhi dengan sejumlah uang yang harus dikeluarkan untuk sebatang smartphone.

Kesan saya akan telah demikian mendalamnya pada dua milyar manusia pengguna internet di dunia saat ini adalah ketika secara tidak ssengaja menemukan istilah egosurfing, vanity searching, egosearching, egogoogling, autogoogling, self-googling, master-googling, google-bating yang secara umumnya adalah seseorang yang mencari tentang dirinya sendiri di internet. Rasanya cukup familiar bukan? Ya, memang cenderung mirip-mirip narsis, dan apabila memang bila kegiatan tersebut mewakili diri seseorang yang narsis maka bisa disebut narsisme telah mencapai level baru dalam penerapannya. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Sean Carton pada 1995.

Mencari diri sendiri dalam internet tidak selamanya buruk memang, ambil contoh saya saja. Dengan tersebarnya catatan-catatan saya di beberapa blog kadang saya melakukan egogoogling untuk mencari satu atau dua catatan yang rasanya ingin saya ambil lagi sebagian datanya atau hanya untuk membaca kembali, yah bolehlah yang terakhir itu memang mungkin sedikit narsis, walau masih dalam level tidak parah lah.

Lebih jauh, sejatinya egosurfing tidak semata narsis atau tidak narsisnya seseorang, apalagi saat ini masih banyaknya generasi seperti saya yang masih agak gagap akan teknologi informasi namun terus-terusan dibombardir dengan gemerlapnya gadget dan semakin cepatnya akses ke internet. Adalah ketidakhati-hatian yang menjadi biang kerok. Ya, kadang orang awam seperti saya tidak hati-hati dalam membagi informasi pribadi mengenai dirinya dan lingkungan terdekatnya; mungkin saja yang seharusnya tidak layak diketahui publik. Dan dengan egosurfing semuanya bisa menjadi musibah apalagi bila dilakukan oleh seseorang dengan niat mencari-cari hal sensitif mengenai diri dan atau lingkungan kita.

Karena melalui egosurfing ini apa yang kita bagi dapat menjadi bumerang suatu saat nanti. Tidak lucukan bila misalnya anak anda mencalonkan diri menjadi presiden dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke dapan tiba-tiba popularitasnya jatuh hanya karena ada aib pribadi yang sepertinya lucu bila ditaruh dalam blog bapaknya dulu kala namun malah menjadi senjata makan (anak) tuannya.

Egosurfing mungkin mengasyikkan bila ingin melihat berapa hits nama anda ketika digoogling, namun cukuplah istilah tersebut menjadi pengingat apa yang anda letakkan di internet maka akan berada di sana selamanya dan siapa saja mungkin bisa memanfaatkannya bisa untuk kebaikan anda atau bahkan mungkin sebaliknya.

————————————-

*Digital native : Mereka lahir ketika teknologi internet sudah akan dimulai dan ketika memasuki Sekolah Dasar teknologi internet sudah dapat diakses. Lebih banyak mengerjakan berbagai hal dengan internet. Jamak untuk memiliki profil di Facebook, Twitter dan sejenisnya serta hampir setiap hari mereka chatting

**Digital Immigrant : Biasanya mereka yang sudah biasa berada di dunia tanpa kemudahan mengakses internet, tetapi kemudian dipaksa untuk masuk dalam dunia virtual melalui internet. Kebanyakan menggunakan internet ini adalah saat usia sudah dewasa dan kebanyakan ketika sudah memiliki penghasilan sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s