Oleh: http://www.walkingpaper.org

13 Desember 2011, http://abhicom2001.multiply.com

sumber: http://keskustakirjasto.fi

Bila anda berkunjung ke toko online semacam amazon dan lainnya, mungkin anda cukup akrab dan bahkan pernah menggunakannya barang satu atau dua kali, yaitu semacam daftar keinginan atau bahasa Inggrisnya wishlist akan benda-benda yang dijual pada toko online tersebut. Untuk beberapa orang mungkin hal tersebut menjadi menarik untuk dipergunakan, hari ini mungkin menambahkan dalam daftarnya sebuah buku fiksi roman lain hari sebuah ipad, namun untuk sebagian orang lainnya mungkin hanya menjadi fasilitas biasa lainnya.

Sebenarnya, mungkin ini ide menarik yang dapat diterapkan pada satu atau dua hal, perpustakaan misalnya. Ya, sebuah daftar keinginan dibuat semenarik mungkin dan tidak perlu dalam bentuk online. Cukup, misalnya, sebidang ruang yang dapat ditempelkan semacam post it bisa white board, bisa tembok, sisi pinggir lemari buku atau tempat-tempat yang selama ini menganggur. Di sana anak-anak menempelkan daftar keinginan mereka akan perpustakaan, biasanya ya buku-buku yang ingin mereka pinjam dari perpustakaan namun buku itu belum ada, tapi tidak menutup kemungkinan lainnya juga.

Ide ini ternyata sudah berjalan dengan baik pada sebuah perpustakaan kecil di Eropa sana tepatnya di Copenhagen, Denmark. Adalah Stine Hoffmeyer pencetus pertama akan ide tersebut setelah sekian lama mencari ide segar dan revolusioner yang mengikutsertakan pengguna perpustakaannya tanpa merubah profil perpustakaan yang dikenal sebagai perpustakaan keluarga.

Ide ini muncul setelah Stine Hoffmeyer mengunjungi perpustakaan pusat “Stadsbiblioteket” di Malmö, Swedia. Selama beberapa tahun belakangan perpustakaan ini mencoba menelurkan ide-ide visioner untuk menjadi perpustakaan terbaik. Hal tersebut memberikan kesan yang demikian mendalam bagi Stine namun dia merasa akan terlalu besar untuk perpustakaan kecil di kotanya.

Salah satu ide dari perpustakaan pusat “Stadsbiblioteket” yang dikunjunginya adalah bagaimana mereka membangun bagian khusus untuk remaja. Beberapa kelompok remaja dimintai pendapat akan perpustakaan yang ideal untuk seusia mereka, dan ide-ide tersebut dituliskan pada post it dan ditempelkan dan memberikan kolase warna-warni yang menarik pada tembok. Eksperimen kreatif ini merupakan awal ide tentang “The Wish Library!”.

Sekembalinya ke perpustakaannya, Stine Hoffmeyer menceritakan apa yang dia lihat kepada rekan-rekan kerjanya, dan mereka merasa sepertinya hal tersebut sangat menarik untuk dilakukan. Setelah diskusi beberapa saat akhirnya lahirlah sebuah ide: Mari kita membangun sebuah “Wish Library” di mana pemakai perpustakaan dapat datang ke perpustakaan dengan semua harapan mereka dan perpustakaan akan berusaha membuatnya menjadi kenyataan. Tentu saja dengan harapan agar dapat menjadi perpustakaan favorit mereka.

Pemakai perpustakaan tentu saja sangat menyukainya karena perpustakaan yang transparan dan dapat berpartisipasi langsung pada pengembangan perpustakaan. Pengunjung perpustakaan sadar, dan tentu juga menghargai, bahwa mereka dimintai pendapatnya.

Pengalaman Stine Hoffmeyer adalah sebuah ide yang menarik untuk diterapkan pada lingkungan kita bukan? Rasa-rasanya menjadikan masyarakat sekitar sebagai penentu ke mana arah perpustakaan dikembangkan dapat sedikit menaikkan posisi perpustakaan umum yang selama ini masih menempati kasta non elite dari masyarakat Indonesia. Pertanyaannya adalah, beranikah?

Hanya informasi saja, harapan terakhir yang dikabulkan oleh perpustakaan tempat Stine Hoffmeyer bekerja bukan buku atau komputer terbaru tetapi…sebuah ruang di sudut perpustakaan untuk mengecat kuku.

Advertisements