Oleh: Muhammad Bahrudin

Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UI

Perpustakaan Hogwarts | sumber: flickr.com

Kenal Harry Potter? Saya yakin sebagian besar temen-temen kenal dengan the boy who lived yang satu ini. Sayangnya saya tidak akan secara spesifik membahas mengenai kisah petualangan tiga sekawan (Harry, Ron dan Hermione) di kastil Hogwarts yang megah dan fenomenal itu. Kali ini, saya pengin ngobrol santai tentang perpustakaan. Loh kok? Apa hubungannya? Jangan panik dan kaget dulu dong, sob. Kalo kita perhatiin, petualangan Harry Potter dan teman-temannya di Hogwarts dalam rangka memecahkan misteri horcrux Voldemort (ups..gak apa kan nyebut namanya?) tidak lepas dari peran perpustakaan.

Dari jilid pertama hingga terakhir, banyak kita jumpai adegan-adegan ketika Harry atau teman-temannya memanfaatkan perpustakaan. Awal cerita ketika Harry pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Sihir Hogwarts, dia sudah banyak berhubungan dengan buku-buku untuk menggali informasi tentang dunia magic. Jelas saja, awal cerita kan Harry masih ‘hijau’ tentang dunia sihir karena dia yang memang keturunan penyihir tapi semenjak bayi harus dibesarkan oleh keluarga ‘muggle’ karena kedua orang tuanya meninggal dalam pertempuran melawan Pangeran Kegelapan.

Dalam jilid-jilid selanjutnya, dialog dan adegan yang menunjukkan fungsi dan peran perpustakaan bagi murid-murig Hogwarts semakin kentara. Khususnya di jilid keempat, Harry Potter and the Goblet of Fire, ketika di Hogwarts diadakan turnamen sihir terbesar sepanjang masa yaitu Triwizard. Tidak hanya Sekolah Sihir Hogwarts sebagai wakil London yang berpartisipasi tapi juga wizarding school dari negara lain yaitu Beauxbatons dan Durmstrang. TIga sekolah itu diwakili masing-masing (seharusnya) oleh satu orang muridnya untuk bertanding menyelesaikan tiga clue challenge besar yang diadakan sepanjang tahun ajaran. Hogwarts, pada waktu memiliki dua wakil Triwizard yaitu Cedric Diggory dari asrama Hufflepuff dan Harry Potter dari Gryffindor.

Adegan ketika Harry akan menghadapi tantangan pertama dalam Turnamen Triwizard yaitu mengalahkan naga, dia mencari informasi di perpustakaan karena bingung bagaimana cara menaklukan tantangan itu. Dia mencari info tentang mantra-mantra yang bisa digunakan untuk menjinakaan naga. Di sini digambarkan bahwa Harry memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi ketika tidak memiliki ide untuk memecahkan suatu masalah.

“Aku sudah melakukan riset di perpustakaan. perbudakan peri rumah sudah berlangsung selama berabad-abad. Aku heran taka da yang melakukan apapun sebelum ini.” Berikut adalah petikan kata-kata Hermione dalam Harry Potter and the Goblet of Fire ketika dia juga tengah resah dengan perbudakan peri rumah di dunia sihir. Dia mencari informasi tersebut (lagi-lagi) di perpustakaan. Perpustakaan menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi Hermione dalam mencari ide dan gagasan.

Tokoh yang juga cukup menjadi center of view di jilid keempat ini ialah Viktor Krum, wakil turnamen dari Durmstrang. Dia digambarkan juga tengah mencari informasi di perpustakaan Hogwarts untuk referensi jawaban challenge yang diberikan.

Kemudian ada adegan di mana Harry dan teman-temannya harus menggunakan seksi terlarang di perpustakaan untuk mencari informasi dalam menjawab tantangannya yang kedua Turnamen Triwizard. Ia meminta izin dari salah seorang guru agar dapat menggunakan seksi terlarang tersebut. Tiga sekawan ini sibuk mencari informasi tentang apapun yang bisa membantunya bertahan di dalam air selama satu jam untuk menyelamatkan sesuatu yang ada di Danau Hitam. Di sini digambarkan tentang pentingnya optimalisasi perpustakaan di setiap sisi koleksinya sebagai sumber referensi dan informasi. Walaupun akhirnya Harry tidak menemukan apa yang dia cari di seksi terlarang perpustakaan tetapi paling tidak mereka sudah puas telah berusaha.

Di lain waktu dalam cerita, digambarkan bahwa Harry, Ron dan Hermione duduk bersama di perpustakaan, sementara di luar matahari terbenam dan mereka terus membuka halaman demi halaman buku mantra dengan panik. Mereka tengah berdiskusi dengan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan.  Fungsi perpustakaan sebagai media diskusi dan bersosialisasi terlihat jelas di sini bahkan diterangkan jam buka layanannya bisa sampai matahari terbenam. Hal itu berarti optimalisasi waktu juga termasuk dalam fungsi perpustakaan.

Ada adegan ketika Harry merasa kecewa terhadap perpustakaan karena tidak berhasil membantunya menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tapi kemudian (tetap saja) dia butuh perpustakaan untuk menyelesaikan masalahnya. Bahkan Harry harus menyusup ke perpustakaan dengan jubbah gaibnya untuk membaca buku sepanjang malam. Keadaan perpustakaan yang gelap tidak menghalanginya untuk just searching another information yang dia butuhkan. Dia memanfaatkan mantra ‘lumos’ sebagai penerangan dari ujung tongkat sihirnya. Demikian seterusnya, dari halaman 587 sampai 689, banyak adegan yang menunjukkan Harry menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Hermione, tokoh yang digambarkan sebagai sosok yang smart dan penuh perhitungan, sangat dekat dengan buku-buku dan perpustakaan. “Beri aku dua menit di perpustakaan untuk memastikannya!” Demikian kata Hermione, dia memanfaatkan perpustakaan sebagai media konfirmasi atas ide atau gagasan yang ingin dia sampaikan. Seperti karakternya, dia sosok yang penuh perhitungan.

Harry dan teman-temannya memanfaatkan perpustakaan untuk berdiskusi | sumber: 25.media.tumblr.com

Dunia fiksi adalah dunia di mana imajinasi tercipta sebagai bentk reaksi dari sang imajinator akan dunianya. Karya-karya fiksi menawarkan suatu bentuk kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh pengarangnya dipadukannya dengan nilai estetik yang dominan. Harry Potter merupakan karya fiksi yang fenomenal dari seorang J.K. Rowling. Saya mengambil sisi peran dan fungsi perpustakaan dalam karya ini karena memang di dalamnya begitu banyak kontemplasi tentang dunia tersebut.

Buku-buku Harry Potter banyak menginterpretasikan fungsi dan peran perpustakaan secara eksplisit maupun implisit. Sebut saja yang saya contohkan di atas yang menunjukkan fungsi perpustakaan Hogwarts sebagai media pendidikan. Perpustakaan Hogwarts digunakan oleh siswa-siswanya sebagai sumber informasi dalam mengerjaka tugas-tugas sekolah. Di sana tersedia buku-buku yang siswa perlukan untuk menyokong dunia pendidikannya selama tujuh tahun  di Hogwarts.

Selain itu fungsi dokumentasi juga ada dalam cerita Harry Potter. Melalui perpustakaan, Harry dan teman-temannya dapat mengetahui rekaman sejarah, data, dan informasi terkait dengan apapun yang ingin mereka cari, seperti sejarah kastil Hogwarts, sejarah peri rumah, silsilah keluarga-keluarga penyihir dan sebagainya. Peran koran dalam juga sudah ada dengan munculnya Prophet sebagai terbitan yang menjadi sumber informasi harian, mingguan atau bulanan bagi masyarakat penyihir.

Kemudian yang tidak kalah penting ialah fungsi rekreasi dari perpustakaan juga digambarkan dalam kisah Harry Potter ini. Perpustakaan Hogwarts dimanfaatkan pula oleh siswa-siswinya untuk sekedar berbincang, duduk-duduk atau membaca ringan di waktu luang mereka.

Demikian, meskipun sebuah karya fiksi yang mengandung unsur idealisme pengarangnya, karya Harry Potter ini banyak memberikan informasi dan gambaran kepada pembaca tentang fungsi dan peran perpustakaan secara umum dan spesifik. Ada baiknya juga bahwa pembaca dapat ikut terhanyut dalam imajinasi Tante J.K. Rowling tentang petualangan Harry dan teman-temannya sekaligus memberikan suntikan motivasi untuk memaksimalkan daya guna perpustakaan di dunia nyata.

 

 

Advertisements