Kepustakawanan, Preservasi dan konservasi, Teknologi informasi

Museum: Membangkitkan Era Keterbukaan Akses Informasi Koleksi Visual Via Online

Oleh: Muhammad Bahrudin

Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Tom Baione, direktur Departemen Layanan Perpustakaan di American Museum of Natural History, terlihat melalui koleksi luas museum gambar. Museum akan membuka database arsip digital koleksi khususnya kepada publik. | Sumber: nytimes.com
Sumber: nytimes.com

Ketika berbicara keterbukaan akses informasi, pikiran kita tidak hanya tertuju kepada institusi perpustakaan. Lembaga informasi sangat luas pengertiannya dan dalam bagian ini, saya mencakup pada satu lembaga informasi yang di negeri kita tercinta ini masih minim pengelolaannya yaitu museum. Museum sejauh ini, masih diidentikkan sebagai lumbung barang-barang kuno, etalase benda-benda peninggalan sejarah dan stigma-stigma kerdil seperti itu. Padahal jika dieksplor lebih jauh dan mendalam lagi, fungsi dan peran museum itu sangat luas.

Fungsi museum sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perpustakaan maupun lembaga informasi lainnya, yaitu sebagai gate bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan. Namun, yang unik dari museum adalah, museum memiliki koleksi yang lebih luas tidak terpaku pada koleksi tercetak atau online seperti buku, jurnal, koleksi multimedia dan sebagainya. Museum menyediakan koleksi yang merepresentasikan tema dan karakteristik dari museum itu sendiri, misal: museum keramik akan menyediakan koleksi berbagai macam benda keramik dan diperinci dengan beraneka kisah serta serba-serbi perkeramikan, museum wayang akan menyediakan koleksi yang berkaitan dengan wayang, dan sebagainya.

Jika di Indonesia museum bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dari segi fungsionalitasnya, bukan tidak mungkin problema museum dewasa ini yang cenderung minim peminat akan meningkat drastis. Museum harus berbenah mengikuti era teknologi informasi, museum harus berlari dengan segala aspek perkembangan zaman agar tidak tertinggal dari pergerakan arus kebutuhan infromasi penggunanya.

Berikut saya sajikan mengenai pemaksimalan teknologi informasi dalam meningkatkan fungsi museum bagi masyarakat. Sebagai contoh adalah American Museum of Natural History:

Tom Baione, direktur Departemen Layanan Perpustakaan di American Museum of Natural History, terlihat melalui koleksi luas museum gambar. Museum akan membuka database arsip digital koleksi khususnya kepada publik. | Sumber: nytimes.com
Tom Baione, direktur Departemen Layanan Perpustakaan di American Museum of Natural History, terlihat melalui koleksi luas museum gambar. Museum akan membuka database arsip digital koleksi khususnya kepada publik. | Sumber: nytimes.com
Anna Rybakov, manajer laboratorium digital museum, memegang sebuah gambar pada piring kaca. Museum ini tengah mendigitalisasi katalog slide, cetakan dan negatif film. | Sumber: nytimes.com
Anna Rybakov, manajer laboratorium digital museum, memegang sebuah gambar pada piring kaca. Museum ini tengah mendigitalisasi katalog slide, cetakan dan negatif film. | Sumber: nytimes.com
Ms Rybakov memindai gambar dari arsip museum. 7.000 gambar yang akan dibuat tersedia secara online di images.library.amnh.org/digital yang sebelumnya hanya dapat diakses di perpustakaan penelitian lantai empat museum. | sumber: nytimes.com
Ms Rybakov memindai gambar dari arsip museum. 7.000 gambar yang akan dibuat tersedia secara online di images.library.amnh.org/digital yang sebelumnya hanya dapat diakses di perpustakaan penelitian lantai empat museum. | Sumber: nytimes.com
28history-slide-VU8W-jumbo
Slide pemandangan berwarna tentang Roy Chapman Andrews dan George Olsen di “nest of the even dozen dinosaur eggs” di Asia Expedition Ketiga di Mongolia pada tahun 1925. | Sumber: nytimes.com
Sebuah film negatif dari koleksi menunjukkan pengantin Yakut dari keluarga sejahtera di Rusia pada tahun 1902.
Sebuah film negatif dari koleksi menunjukkan pengantin Yakut dari keluarga sejahtera di Rusia pada tahun 1902. | Sumber: nytimes.com
28history-slide-WPO0-jumbo
Koleksi ini juga mencakup negatif film dari tiga gadis Seminole di Everglades di Florida pada tahun 1907. | Sumber: nytimes.com
Pengunjung memiliki akses ke behind-the-scenes images. Dalam film negatif ini, pekerja dipasang model untuk "The Forest Floor" yang dipamerkan di museum pada tahun 1958.
Pengunjung memiliki akses ke behind-the-scenes images. Dalam film negatif ini, pekerja dipasang model untuk “The Forest Floor” yang dipamerkan di museum pada tahun 1958. | Sumber: nytimes.com
Ini piring kaca yang menunjukkan negatif  film beberapa pekerja memindahkan bagian dari pohon sequoia raksasa, "Big Tree," ke dalam Hall of North American Forests pada tahun 1912
Ini piring kaca yang menunjukkan negatif film beberapa pekerja memindahkan bagian dari pohon sequoia raksasa, “Big Tree,” ke dalam Hall of North American Forests pada tahun 1912 | Sumber: nytimes.com
Advertisements

1 thought on “Museum: Membangkitkan Era Keterbukaan Akses Informasi Koleksi Visual Via Online”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s