Future Library: Proyek 100 Tahun Seorang Seniman

Oleh: Muhammad Bahrudin

Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Sumber: hyperallergic.com
Sumber: hyperallergic.com

It takes a certain measure of both hubris and selflessness to create an artwork that won’t be completed until long after your death.

Pernahkan Anda melakukan atau mendengar sebuah proyek berjangka sampai ratusan tahun? Mungkin belum terpikr di benak Anda untuk melakukannya. Namun, inilah yang dilakukan seorang seniman asal Skotlandia, Katie Paterson, dengan proyeknya bertajuk “Future Library” yang dimulai tahun ini dan direncanakan baru menuai hasil 100 tahun kemudian. Hari ini, proyek itu dimulai dari 1.000 bibit pohon dan di 2114, semua itu akan menjadi sebuah antologi buku.

Menurut Paterson, rencana kisah “Future Library” ini dimulai ketika Oslo memberi dia sebidang tanah di hutan di luar kota yang disebut Normarka. Di sana, ia dan timnya telah menanam 1.000 pohon, yang akan tumbuh selama 100 tahun ke depan. Sementara itu, Paterson dan kelompok yang disebut Future Library Trust, terdiri dari penerbit, editor, dan lain-lain, akan memilih seorang penulis per tahun untuk menulis teks apapun untuk “Future Library”. Teks tersebut akan dijadikan naskah dan disimpan dalam sebuah ruangan khusus di Perpustakaan New Oslo. Paterson merancang dan membangun ruangan dari pohon-pohon yang ditebang untuk membuat jalan bagi hutan “Future Library”, begitu dia menyebutnya. Orang-orang akan dapat mengunjungi dan melihat nama penulis dan judul teks, tapi tidak ada naskah yang tersedia untuk mereka baca sampai tahun 2114, ketika pohon-pohon “Future Library” akan ditebang dan berubah menjadi kertas yang akan digunakan untuk mencetak naskah-naskah dan dijadikan buku-buku untuk diterbitkan.

That may sound like a conceptual and logistical thicket, tapi itu cukup sesuai atau bahkan lebih rumit dari upaya artistik masa lalu Paterson tentang sebuah misi pengiriman fragmen dari bulan  secara komersial di seluruh dunia dan memahat sebutir pasir dari Gurun Sahara.

“Beberapa karya saya hanya tinggal konsep murni,” tulis Paterson dalam sebuah email kepada Hyperallergic, sebuah blog tentang seni. “Banyak yang berada di ambang antara mungkin dan tidak mungkin. Namun, untuk karya-karya lain, materialitas atau pengalaman yang diwujudkan dari karya seni adalah kuncinya. “Future Library’ itu hidup, dia bernapas, dia adalah karya seni organik, dan berlangsung lebih dari 100 tahun. Dia akan hidup dan bernapas melalui pertumbuhan material pohon. Aku membayangkan lingkaran pohon sebagai bab dalam sebuah buku. Kata-kata tertulis, dari tahun ke tahun, aktif, kemudian terwujud. Pengalaman pengunjung berada di hutan telah berubah selama beberapa dekade. Mereka akan menyadari lambatnya pertumbuhan pohon-pohon yang mengandung ide-ide para penulis ‘seperti energi tak terlihat. Itu adalah sesuatu yang harus menjadi ada”, lanjutnya.

Konsep "Future Library" Katie Paterson (2014-2114) | Sumber: futurelibrary.no
Konsep “Future Library” Katie Paterson (2014-2114) | Sumber: futurelibrary.no

Tapi apakah ke-menjadi ada-an itu datang dengan dampak lingkungan yang sudah diperhitungkan? Aku bertanya kepada Paterson tentang kekhawatiran yang akan ditimbulkan dari membabat sebagian hutan dengan tujuan menanam pohon baru, hanya untuk akhirnya menebangi mereka juga.

“Etos karya seni berputar di sekitar waktu yang lambat, penuh perhatian, kesadaran, dan umur panjang,” jelasnya. “Pohon-pohon itu ditebang dari hutan sebagai bagian dari proses penanaman alami untuk mempertahankan regenerasi hutan. Kami telah diberi hadiah hutan oleh Kota Oslo dan bekerja sama dengan Kehutanan Norwegia untuk mengelola hutan selama 100 tahun. Kayu dari pohon yang ditebang tersebut digunakan dalam pembangunan ruangan khusus di Perpustakaan Kota yang akan mengelola naskah. Kayu-kayu itu juga dijadikan pulp untuk membuat sertifikat bagi ‘Future Library’. Future Library memiliki konsep alam, lingkungan adalah intinya. Konsep ini melibatkan ekologi, hal-hal lain yang saling terkait, mereka yang berada di sana saat ini dan yang akan datang. Pertanyaan tersebut sebenarnya menunjukkan kecenderungan untuk berpikir singkat, mengambil keputusan hanya untuk kita yang hidup sekarang ini tanpa memandang jauh ke depan.

Memang, salah satu aspek yang paling menarik dari konsep “Future Library” adalah soal periode waktu. Kita tahu bahwa periode waktu itu cukup lama dan tak akan melihat hasilnya karya tersebut. “Skala waktu 100 tahun, tidak luas dalam hal kosmik,” kata Paterson. “Namun, dalam banyak hal skala waktu manusia 100 tahun itu lebih konfrontatif. Hal ini di luar rentang hidup kita saat ini, tapi cukup dekat untuk berhadapan dengan itu, untuk memahami dan merelatifkan.”

Menurut pandangan Paterson, waktu tidak hanya inti dari karyanya sendiri, itu adalah kekuatan pendorong untuk komisioning “Future Library” gagasannya. Pekerjaan ini merupakan bagian dari sebuah usaha yang disebut Slow Space Bjørvika, yang diselenggarakan oleh perusahaan Bjørvika Utvikling dan British Art Production Group Situations di bekas daerah pelabuhan kontainer Oslo. Empat proyek seni publik tengah berlangsung di sana selama beberapa tahun (atau dalam kasus Paterson, untuk ‘banyak’ tahun). Tentu saja, risiko terbesar dari proyek-proyek publik jangka panjang seperti ini adalah bahwa mereka akan hancur berantakan ketika pencipta mereka ‘pergi’, tidak seperti patung, yang terbatas dan mudah dipelihara. Namun keyakinan kuat untuk bisa menghadirkan sebuah proyek besar jangka besar demi masyarakat, menjadi pendorong yang kuat untuk terus melanjutkan proyek ini.

Bagaimana hasilnya? Mungkin nanti anak cucu bahkan cicit kita yang akan menyaksikan bagaimana hasil dari proyek “Future Library” Katie Paterson ini terwujud. Atau mungkin pula hanya mendengar cerita besar mengenai proyek jangka panjang di masa lampau yang tak pernah terwujud. Tunggu 100 tahun lagi dari sekarang…

Adaptasi dari artikel Jillian Steinhauer di hyperallergic.com berjudul “Artist’s 100-Year Project Will Grow Books from Saplings”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s