Literasi informasi, Masyarakat informasi

Anomali Jonru: Pelajaran dari Pembelokan Arah Pejuang Literasi

Oleh: Agus M. Irkham

Pegiat Literasi

10533947_573445856095234_3682329842099750753_o-e1532332532942.jpg
Sumber gambar: id-id.facebook.com/felix.kwetiau

Ada berderet kejadian di ranah literasi yang berlangsung sepanjang 2014. Hal ini dimulai dari terpilihnya Indonesia sebagai guest of honour (tamu kehormatan) Frankfurt Book Fair tahun depan, penyelenggaraan Indonesia Book Fair yang diikuti pula oleh peserta dari luar negeri, perayaan Hari Aksara Internasional, hingga dibubarkannya lembaga non-struktural Dewan Buku Nasional.

Namun, dari banyak kejadian tersebut, terselip satu peristiwa yang membuat saya terusik untuk menuliskannya di kolom ini. Hal itu adalah perang kicau (twitwar) makna Jonru sebagai lema atau kata entri sampai berujung pada dilaporkannya Ahmad Sahal dan Rifan Herriyadi ke kepolisian oleh Jonru, karena dinilai telah mencemarkan nama baiknya.

Bumbu menjadi menu. Naga-naganya, kalimat itu yang paling bisa saya jadikan tali untuk mengikat gaduhnya suasana di media sosial, yang kemudian melebar ke dunia nyata tersebut. Jonru, yang sebelumnya menjadi pegiat budaya membaca dan menulis, yang identik dengan kedalaman dan kesunyian, bergeser menjadi aktivis media sosial yang lebih banyak menawarkan suasana hingar bingar tak berkesudahan.

Jumlah like di fanspage FB-nya smapai 400 ribu akun, dan hampir follower di Twitter-nya hampir 50 ribu sampai dengan Rabu  kemarin. Jumlah “umat” sebanyak itu sebenarnya bisa menjadi sebuah potensi besar untuk semakin memasifkan gerakan membaca dan menulis yang ia lakukan. Tapi rupanya bumbu telah mengalahkan menu. Fanspage dan akun Twitter-nya sebagian besar untuk tidak mengatakan seluruhnya, kini membincangkan persoalan politik. Perkembangan literasi di Indonesia tidak lagi dibicarakan.

Esensi bergiat di ranah literasi adalah membuat orang menjadi lincah dalam memilih dan menganalisis berbagai informasi serta mengidentifikasi, mengurai, memahami masalah dan menganalisisnya, yang kemudian dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan tindakan.

kemampuan literasi memampukan luasan pengetahuan seseorang menjadi berkembang. Fanspage dan Twitter Jonru kini justru menegasi esensi literasi. Kesanggupan menggiring jemaahnya untuk menjadi illiteracy sangat besar. Hal itu menjadikan informasi dari dia satu-satunya sumber kebenaran.

Kini, saya tidak pernah mendengar lagi kabar pelatihan menulis online-nya. Padahal, di Indonesia, dalam hal menulis online ini, Jonru menjadi salah satu pionirnya. Hanya, tersiar kabar, pelatihan menulis yang baru saja ia adakan hanya diikuti oleh 10 orang. BUku yang ditulis pun tidak lantas menjadi trend setter. Atau, paling tidak bukunya masuk kategori batas minimal bisa disebut bestseller, yaitu terjual sebanyak 15 ribu eksemplar.

entah, fakta itu apakah bisa dibaca sebagai bentuk tulah atau kutukan atas berbeloknya arah perjuangan Jonru dari sof politics (literasi, budaya) ke hard politics (partai-kekuasaan). Tapi yang jelas godaan hingar bingar media sosial telah membawa Jonru “tersesat” di jalan yang ia sendiri tidak sadari adalah keliru. Semoga saja ia masih ingat jalan pulang.


Artikel ini dimuat dengan judul “Jonru” di Koran Tempo Edisi Jumat, 19 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s