Future Library: Proyek 100 Tahun Seorang Seniman

Oleh: Muhammad Bahrudin

Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Sumber: hyperallergic.com

Sumber: hyperallergic.com

It takes a certain measure of both hubris and selflessness to create an artwork that won’t be completed until long after your death.

Pernahkan Anda melakukan atau mendengar sebuah proyek berjangka sampai ratusan tahun? Mungkin belum terpikr di benak Anda untuk melakukannya. Namun, inilah yang dilakukan seorang seniman asal Skotlandia, Katie Paterson, dengan proyeknya bertajuk “Future Library” yang dimulai tahun ini dan direncanakan baru menuai hasil 100 tahun kemudian. Hari ini, proyek itu dimulai dari 1.000 bibit pohon dan di 2114, semua itu akan menjadi sebuah antologi buku.

Menurut Paterson, rencana kisah “Future Library” ini dimulai ketika Oslo memberi dia sebidang tanah di hutan di luar kota yang disebut Normarka. Di sana, ia dan timnya telah menanam 1.000 pohon, yang akan tumbuh selama 100 tahun ke depan. Sementara itu, Paterson dan kelompok yang disebut Future Library Trust, terdiri dari penerbit, editor, dan lain-lain, akan memilih seorang penulis per tahun untuk menulis teks apapun untuk “Future Library”. Teks tersebut akan dijadikan naskah dan disimpan dalam sebuah ruangan khusus di Perpustakaan New Oslo. Paterson merancang dan membangun ruangan dari pohon-pohon yang ditebang untuk membuat jalan bagi hutan “Future Library”, begitu dia menyebutnya. Orang-orang akan dapat mengunjungi dan melihat nama penulis dan judul teks, tapi tidak ada naskah yang tersedia untuk mereka baca sampai tahun 2114, ketika pohon-pohon “Future Library” akan ditebang dan berubah menjadi kertas yang akan digunakan untuk mencetak naskah-naskah dan dijadikan buku-buku untuk diterbitkan. Continue reading

Dinamika Perpustakaan Modern: Mendobrak Pakem Perpustakaan Tradisional

Oleh: Muhammad Bahrudin

Pustakawan di Badan Standardisasi Nasional

Sumber: bedroomkitchen.com

Sumber: bedroomkitchen.com

Pernahkah Anda mendengar lelucon tua tentang perpustakaan berikut ini?

Seorang bocah masuk ke perpustakaan dan meminta burger dan kentang goreng. “Anak muda!” Teguran pustakawan membuatnya terkejut. “Anda berada di perpustakaan.” Jadi kemudian, anak itu mengulangi perintahnya, hanya saja kali ini dia sambil berbisik.

Begitu banyak yang telah berubah dalam perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir. Adegan semacam ini mungkin tidak begitu terlalu mengada-ada. Banyak perpustakaan telah menjadi pusat komunitas yang ramai di mana berbicara keras-keras dan bahkan makan benar-benar bisa diterima.

Sebagai contoh Perpustakaan Umum Boston, yang didirikan pada tahun 1848 dan merupakan perpustakaan umum tertua di negara tersebut, bergerak cepat ke arah itu. Dengan renovasi besar yang telah berlangsung, lembaga ini melanggar dari pakem perpustakaan pada umumnya untuk menunjukkan perubahan yaitu sisi yang lebih ramah sisi ke pengunjung. Rancangan interior meliputi ruang ritel baru, bagian souped-up untuk remaja, dan bangku bar tinggi di mana pengunjung dapat membawa laptop mereka dan melihat keluar ke bagian atas Boylston Street. Continue reading

Di Antara Buku, Jus dan Jazz

Oleh: Ninis Agustini Damayani

Suasana di Zoe Comics Corner, Bandung | sumber: http://ngongospot.files.wordpress.com

Di suatu hari pukul dua siang, seorang anak laki-lai mengenakan seragam sekolah dasar duduk di lantai kayu berwarna hitam sambil bersandar pada sebuah rak tinggi yang dipenuhi komik. Tangannya asyik membuka halaman-demi halaman komik Avatar. Di halaman luar, di ruang semi terbuka, tampak tiga mahasiswa bercelana jins dan kaos oblong serius menatap laptop yang terbuka di atas meja di hadapan mereka sambil bercakap-cakap. Tak berapa lama kemudian seorang pelayan dating menghantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan. Percakapan terus berlangsung sambil menikmati pesanan tersebut.

Sementara di pojok ruang tampak dua orang anak SMA duduk berdampingan di kursi panjang coklat. Keduanya asyik membaca novel sambil sesekali menyeruput jus jeruk yang mereka pesan dari kafe di tempat itu. Musik mengalun lembut tanpa mengganggu aktivitas pengguna perpustakaan berbasis komunitas berlabel Zoe Comics Corner di jalan Pager Gunung ,Bandung itu. Di sana tersedia ruang baca semi terbuka dengan fasilitas hotspot untuk mereka yang menyukai komik khususnya komik Jepang dan novel Indonesia. Selain kegiatan membaca yang dijadwalkan hari Senin hingga Jumat, anggota juga dapat mengikuti berbagai kegiatan lain seperti klub bola, klub musik dan klub jurnalis kampus pada hari Sabtu dan Minggu. Continue reading